BERITA

  • SMKN 1 Kudus Unjuk kebolehan Kuliner Tradisional di Monas

    SMKN 1 Kudus Unjuk kebolehan Kuliner Tradisional di Monas

    JAKARTA (Pos Kota)- Siswa SMKN 1 Kudus unjuk kebolehan dalam ajang Pekan Wisata Kuliner Tradisional Nusantara (PWKTN) 2014 yang berlangsung di lapangan Monumen Nasional (Monas), Jakpus. Kegiatan yang berlangsung 12-14 Desember 2014 tersebut juga diikuti oleh komunitas kuliner Nusantara lainnya.

    Tampilnya siswa SMKN 1 Kudus dalam gelaran yang cukup bergengsi tersebut membuat Menteri Pariwisata Arief Yahya sangat apresiate.

    “Tak banyak SMK yang memiliki keberanian seperti SMKN 1 Kudus. Mereka berani berkompetisi untuk menarik konsumen diajang nasional seperti sekarang ini,” kata Arief.

    Menurut Arief Indonesia merupakan negeri yang kaya akan jenis masakan tradisional. Pada 2013, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menetapkan 30 makanan dan minuman yang paling mewakili aset kuliner terbaik Indonesia sebagai Ikon Kuliner Tradisional Indonesia (IKTI).

    SMKN 1 Kudus sendiri merupakan SMK pertama di Indonesia yang mewajibkan anak didiknya menguasai menu 30 ikon kuliner tradisional Indonesia. Inisiatornya adalah Djarum Foundation bekerja sama dengan BNI yang kemudian menjadikannya sebagai Sekolah Kuliner Dapur Nusantara BNI, atau yang kemudian dikenal sebagai Kudapan BNI.

    “Inilah satu-satunya sekolah yang melaksanakan kurikulum pendidikan tata boga secara total,” kata Primadi H. Serad selaku Program Director Djarum Foundation.

    Menurut Primadi, memberikan kemampuan kepada siswa untuk menguasai menu 30 ikon kuliner Nusantara harus terus dilakukan oleh pemerintah. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas lulusan SMK serta membuka kesempatan berkarir yang lebih luas pada sektor ekonomi kreatif dalam lingkup domestik maupun internasional.

    Lebih lanjut Primadi mengatakan bahwa target Kementerian Pariwisata untuk membuka 10 restoran tradisional Indonesia diluar negeri harus disiapkan sebaik mungkin.

    “Kebiasaan buruk kebanyakan masyarakat kita yang kurang menghargai hasil karya bangsa sendiri, dan baru ikut menghargai jika ada bangsa lain yang menghargai,” pungkasnya.

KOMENTAR

BERITA LAINNYA

Indeks